Orangtua Wajib Tahu, Hindari 4 Kalimat Toxic Ini Pada Anak Laki-Laki, Apa Saja? Cek Disini

  • Windy Anggraina
  • Kamis, 08 Januari 2026 | 12:03 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina

Riwara.id – Isu tentang kesehatan mental pada anak selalu digaungkan beberapa waktu terakhir ini. di era modern ini orangtua bsa belajar dari banyak hal tentang parenting dan bagaimana membesarkan anak laki-laki dengan baik.

Pola parenting yang baik akan menentukan kesehatan mental anak dan perkembangan psikologisnya ketika anak beranjak dewasa. Hindari semaksimal mungkin perkataan yang mengarah pada perkataan toxic pada anak lak-laki.

Dilansir Riwara.id dari laman Healthline, Kamis, 8 Januari 2026, berikut kata-kata toxic yang harus dihindari orangtua pada anak laki-laki.

Baca juga: Dosen Wajib Simak! Kemendiktisaintek Terbitkan Aturan Baru Pemberian Tunjangan Profesi Dosen 2026, Ini Kriteria Dosen yang Berhak Dapat Tunjangan

 1.Meremehkan emosi anak laki-laki

Sering kita melihat orang tua meremehkan anak laki laki dengan mengatakan  anak laki-laki jangan me nangis atau jangan lebay. Ini termasuk bentuk kalimat toxic yang paling sering diterima anak laki-laki sejak kecil. Kalimat ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa emosi adalah sesuatu yang salah dan harus ditekan.

Invalidasi emosi merupakan salah satu bentuk luka emosional paling berbahaya.  Invalidasi adalah salah satu bentuk pelecehan emosional yang paling merusak, dan yang mengkhawatirkan, sering kali terjadi tanpa disadari.

 Kalimat toxic semacam ini membuat anak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaan mereka tidak penting, sehingga berisiko mengalami kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi saat dewasa.

2. Memaksa anak laki-laki harus kuat

Kalimat seperti laki-laki harus kuat jangan cengeng adalah contoh ungkapan toxic yang menanamkan standar maskulinitas sempit. 

 Anak laki-laki seolah dipaksa untuk selalu tangguh, tanpa ruang untuk rapuh. Padahal anak laki-laki ataupun perempuan punya kesempatan yang sama untuk menjadi rapuh.

 Keyakinan kaku tentang peran anak laki-laki bisa sangat merugikan.  Keyakinan yang kaku tentang apa arti menjadi anak laki-laki dapat berdampak buruk, karena anak laki-laki hadir dengan beragam kepribadian, minat, dan kebutuhan emosional.

 Kalimat toxic ini berisiko membuat anak menekan stres dan kesedihan, yang kelak bisa muncul dalam bentuk kemarahan atau agresi.

 3. Mengaitkan perilaku dengan gender

 Ucapan seperti boys will be boys, itu mainan perempuan, atau “kamu seperti anak perempuan termasuk kalimat toxic yang membatasi eksplorasi diri anak laki-laki.

 Kalimat ini memberi pesan bahwa ada minat atau perilaku tertentu yang tidak pantas dilakukan, hanya karena jenis kelamin.

Pandangan gender yang kaku dan biner itu membatasi dan berbahaya bagi semua orang,” ujarnya. Kalimat toxic berbasis gender ini bisa membuat anak laki-laki merasa bersalah atas minat alaminya dan menghambat perkemba ngan identitas diri yang sehat. 

4. Mengabaikan kebutuhan anak

Pernyataan lainnya, seperti karena mama bilang begitu, sudah jangan banyak tanyaa atau terserah adalah contoh kalimat toxic yang membuat anak laki-laki merasa tidak didengar. 

 Kalimat ini menutup ruang dialog dan menegaskan bahwa kebutuhan anak tidak penting. Meski masalah anak terlihat sepele bagi orang dewasa, emosi anak tetap nyata. 

Apa pun yang dirasakan anak itu sangat nyata bagi mereka, meskipun bagi kita terlihat sepele. Kalimat toxic semacam ini dapat membuat anak enggan menyampaikan perasaan atau meminta bantuan di kemudian hari.***

Jangan ucapkan 4 kata kata toxic ini pada anak laki laki bisa mempengaruhi kesehatan mental anak

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News