Indonesia Catat 386 Kasus TBC, Banyak Kasus TBC yang Kurang Terdeteksi Dini, Ini Himbauan Wakil Menkes

  • Windy Anggraina
  • Senin, 02 Februari 2026 | 12:59 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina

Riwara.id- Kabar mengejutkan tentang penyakit TBC di Indonesia datang dari informasi Kementerian Kesehatan. Indonesia tercatat sebagai negara dengan rasio kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia, melampaui India jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk. Pemerintah mengakui masih banyak kasus TBC yang tidak terdeteksi, sehingga penularan terus berlangsung di masyarakat. 

Kondisi ini membuat sejumlah kelompok berada dalam risiko jauh lebih besar untuk terinfeksi dan jatuh sakit. Faktor daya tahan tubuh, penyakit penyerta, hingga lingkungan tempat tinggal menjadi penentu utama. 

Seperti dikutip Riwara.id dari laman Kemenkes, Senin, 2 Februari 2026, Wakil Menteri Kesehatan II Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan Indonesia mencatat 386 kasus TBC per 100.000 penduduk, jauh di atas India yang berada di angka 190 kasus per 100.000 penduduk. 

Baca juga: SIMAK! Ini Dia Hasil Seleksi Administrasi PPPK Kementerian HAM Tahun 2025, Cek Apakah Ada Namamu?


Tingginya rasio tersebut menunjukkan penularan TBC di Indonesia masih aktif dan belum tertangani secara optimal. Benjamin menjelaskan karakter TBC yang berkembang perlahan membuat banyak penderita tetap beraktivitas seperti biasa pada fase awal, sehingga penyakit sering luput dari perhatian dan tidak segera diobati. 


Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menegaskan bahwa siapa pun dapat terinfeksi TBC, tet api risiko berkembang menjadi TBC aktif jauh lebih tinggi pada orang dengan sistem imun yang melemah. 

Kelompok ini mencakup penderita HIV, diabetes, penyakit ginjal berat, kanker kepala dan leher, serta mereka yang menjalani terapi imunosupresif seperti kortikosteroid atau obat penyakit autoimun. CDC menyebut orang dengan daya tahan tubuh lemah lebih sulit mengendalikan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, sehingga penyakit lebih mudah berkembang menjadi TBC aktif. 

Diabetes sebagai salah satu faktor risiko terbesar TBC di negara berkembang. Penderita diabetes memiliki risiko sekitar tiga kali lipat lebih tinggi mengalami TBC aktif dibandingkan orang tanpa diabetes karena respons imun yang terganggu. 

Selain diabetes, kondisi gizi buruk juga berperan besar. Kekurangan nutrisi melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi serta memperlambat proses penyembuhan. 

CDC juga menempatkan anak-anak, terutama di bawah usia lima tahun, sebagai kelompok berisiko tinggi karena sistem imun yang belum matang. Lansia menghadapi risiko serupa akibat penurunan fungsi kekebalan tubuh secara alami. Kebiasaan merokok turut meningkatkan risiko TBC. 

Baca juga: SIAP-SIAP MUDIK! Pemerintah Umumkan Rencana Berikan Diskon Kereta Api, Kapal Laut hingga Pesawat untuk Lebaran 2026

Paparan asap rokok merusak pertahanan paru-paru, sehingga bakteri TBC lebih mudah bertahan dan berkembang. Perokok tercatat memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi terkena TBC dibandingkan no n-perokok.

Lingkungan padat dan ventilasi buruk Faktor lingkungan menjadi pemicu penting penularan TBC. Rumah padat penghuni, ventilasi minim, dan kurangnya sinar matahari menciptakan kondisi ideal bagi kuman TBC bertahan lama di udara. 

Benjamin menyebut kuman TBC dapat hidup hingga enam bulan di rumah lembap tanpa cahaya matahari, tetapi bisa mati dalam 15–30 menit jika terpapar sinar matahari langsung. 

Deteksi dini masih jadi tantangan Pemerintah mengakui banyak kasus TBC belum terdeteksi. Di Kulon Progo, misalnya, jumlah kasus terlapor baru mencapai sekitar separuh dari estimasi, sehingga ratusan penderita berpotensi menularkan penyakit di lingkungan sekitarnya. 

CDC menegaskan TBC sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan jika terdeteksi lebih awal dan diobati hingga tuntas. Karena itu, pemeriksaan dini pada kelompok berisiko menjadi kunci untuk menekan penularan dan menurunkan beban TBC nasional. ***

 

Indonesia tercatat sebagai negara dengan rasio kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia, melampaui India jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk. Pemerintah mengakui masih banyak kasus TBC yang tidak terdeteksi, sehingga penularan terus berlangsung di masyarakat

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News