Nilai Tukar Rupiah Tertekan Dekati Rp17 Ribu, Ternyata Ini Faktor Pemicunya, Bank Indonesia Keluarkan Kebijakan Penting

  • Windy Anggraina
  • Senin, 19 Januari 2026 | 07:10 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina
Bank Indonesia catat aliran dana masuk investasi asing sampai Desember 2025
Nilai Tukar Rupiah Makin Tertekan

 

Riwara.id – Pergerakan mata uang dunia tentu tidak lepas dari kondisi politik dunia yang saat ini semakin tidak menentu. Ketika muncul gejolak geopolitik secara tidak langsung akan berimbas pada penekanan nilai mata uang Rupiah.

 Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, peningkatan tekanan di pasar keuangan global menjadi penyebab nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tertekan hingga mendekati level 17.000.

 Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, tekanan pada pasar keuangan itu bersumber dari eskalasi tensi geopolitik.

 Kemudian juga dari kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun.

Baca juga: Calon Maba Wajib Simak, Ini Daftar Lengkap 75 Prodi di UNNES untuk SNBP 2026, Adakah Salah Satunya Pilihanmu?

 Kondisi ini mendorong nilai tukar rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per dollar AS pada Selasa kemarin atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara tahunan (year-to-date/yoy). 

"Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia," ujar Erwin seperti dilansir Riwara.id dari laman Bank Indonesia, Senin, 19 Januari 2026.

 Rupiah tidak menjadi satu-satunya mata uang yang melemah. Sejumlah nilai tukar regional lain juga mengalami pelemahan seperti won Korea yang melemah sebesar 2,46 persen (yoy) dan peso Filipina sebesar 1,04 persen (yoy).

  "Pelemahan rupiah juga masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global," kata dia.

 Dengan kondisi tersebut, BI memastikan akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui konsistensi kebijakan stabilisasi BI yang terus dilakukan secara berkesinambungan.

 Adapun kebijakan stabilisasi rupiah yang dilakukan BI yaitu intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika Serikat, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

 Erwin mengatakan, bank sentral akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.

BI juga akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca juga: Benarkah Paket Stimulus Ekonomi Jaga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Level 5 Persen Tahun 2026, Ini Analisis Bank Dunia

 "BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi,"tambahnya.***

 

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, peningkatan tekanan di pasar keuangan global menjadi penyebab nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tertekan hingga mendekati level 17.000.

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News