RIWARA.id - Muhammadiyah telah menetapakan 1 Ramadan atau awal bulan Ramadan pada 18 Februari 2026. Penentuan tersebut didasarkan pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Pakar Falak Muda Muhammadiyah, Najmuddin Saifullah, mengatakan KHGT merupakan ijtihad terbaik Muhammadiyah yang mengintegrasikan dalil syar’i, fikih, dan sekaligus astronomi modern.
"KHGT ini adalah ijtihad Muhammadiyah yang terbaik, karena memanfaatkan pengetahuan, landasan dalil dan hadis yang kuat,” ujarnya dikutip Riwara.id dari laman muhammadiyah.or.id, Selasa 3 Februari 2026.
Baca juga: Basarnas Surakarta Naik Status Jadi Kantor, Targetkan Pos di Setiap Kabupaten Kota
Najmuddin menjelaskan bahwa KHGT dibuat berdasarkan pada Al-Qur’an dan hadis. Dari sisi fikih, KHGT menggunakan prinsip ittihād al-mathāli’ atau menganggap bumi sebagai satu matlak (satu kawasan rukyat global).
Hal itu berarti umat Islam di seluruh dunia diupayakan memulai Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha secara bersamaan.
Sementara dari sisi sains, KHGT memanfaatkan astronomi modern untuk menghitung posisi matahari dan bulan secara presisi untuk tinggi hilal, elongasi, hingga waktu konjungsi (ijtima).
Syarat Astronomis
Sementara itu, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo menyatakan berdasarkan keputusan Majelis Tarjih, seluruh kawasan dunia dipandang sebagai satu kesatuan.
Bulan baru dimulai secara serentak apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan di bumi yang memenuhi dua syarat astronomis.
Syarat itu adalah elongasi bulan–matahari minimal 8 derajat dan ketinggian hilal saat matahari terbenam minimal 5 derajat.
Apabila kriteria tersebut belum terpenuhi sebelum pukul 24.00 GMT ada parameter lanjutan, yaitu:
- Ijtimak (konjungsi) harus terjadi di Selandia Baru sebelum fajar, karena wilayah ini merupakan kawasan berpenduduk yang paling awal menyambut hari baru di bumi.
- Pada saat yang sama, parameter 5 derajat dan 8 derajat harus terpenuhi di daratan benua Amerika, yang menjadi patokan akhir dari siklus 24 jam global.
Berdasarkan hasil hisab, konjungsi bulan terjadi pada hari Selasa 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 GMT.
Namun, sebelum pukul 24.00 GMT di hari tersebut, tidak ada wilayah dunia yang memenuhi secara langsung kriteria elongasi 8 derajat dan ketinggian hilal 5 derajat.
Artinya, untuk syarat utama belum terpenuhi, sehingga Majelis Tarjih kemudian menggunakan parameter lanjutan.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ijtimak di wilayah Selandia Baru terjadi sebelum waktu fajar setempat.
Pada bulan Februari, wilayah Selandia Baru menggunakan waktu musim panas (UTC +13). Maka, konjungsi akan berlangsung sekitar pukul 01.00 dini hari waktu lokal, sementara fajar terjadi setelahnya.
Dari hal tersebut, syarat pertama dalam parameter lanjutan penentuan 1 Ramadan telah terpenuhi.
Selanjutnya ditinjau dari kondisi di benua Amerika. Berdasarkan perhitungan geosentrik (berbasis pusat bumi), di wilayah Bethel, Alaska, menunjukkan elongasi telah mencapai lebih dari 8 derajat dan ketinggian hilal juga lebih dari 5 derajat.
"Dari parameter global, semua telah terpenuhi di daratan Amerika. Meski wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit, perhitungan itu tetap sah karena yang dijadikan acuan adalah daratan, bukan jumlah populasinya,” jelas Rahmadi.
Dengan terpenuhinya dua syarat lanjutan tersebut, maka 1 Ramadan ditetapkan secara global pada keesokan harinya.
Berdasarkan seluruh rangkaian perhitungan dan parameter tersebut, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menetapkan jika 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
"Semoga kita semua dipertemukan dengan bulan suci Ramadan dalam keadaaan sehat dan mampu menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya,” imbuh Rahmadi.
Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026. Penentuan tersebut didasarkan pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).